Investasi Raksasa Tiongkok Perkuat Posisi Indonesia Global
Table of Contents
Media PWPM, - Arus investasi berskala besar dari Tiongkok kembali menegaskan daya tarik Indonesia di peta ekonomi global. Nilai investasi sekitar Rp36,4 triliun atau setara US$2,19 miliar dipastikan akan mengalir ke Tanah Air melalui 16 proyek strategis lintas sektor, mulai dari kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hingga industri baterai.
Kesepakatan bernilai jumbo ini dicapai antara perusahaan-perusahaan asal Provinsi Fujian, Tiongkok, dengan mitra usaha di Indonesia. Seluruh proyek tersebut berada dalam payung inisiatif Two Parks Twin Countries (TCTP), sebuah skema kerja sama industri yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi dan integrasi rantai pasok kedua negara.
Enam belas proyek yang disepakati menyasar sektor-sektor yang sejalan dengan agenda industrialisasi nasional. Selain pengembangan AI dan baterai, kerja sama juga merambah industri logam dasar, pengolahan daging dan makanan laut, tekstil, teh, furnitur, hingga teknologi drone. Ragam sektor ini mencerminkan upaya mendorong nilai tambah dan diversifikasi basis industri dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai investasi tersebut memiliki arti strategis karena mempertemukan dua kekuatan ekonomi besar dunia dengan pasar domestik yang sama-sama luas. Menurutnya, kolaborasi ini membuka peluang integrasi pasar yang saling menguntungkan.
“Dengan populasi 1,4 miliar jiwa, Tiongkok berada di peringkat kedua dunia, sementara Indonesia dengan 285 juta jiwa berada di peringkat keempat. Keduanya anggota G20, dengan PDB Tiongkok sebesar USD17,8 triliun dan Indonesia USD1,4 triliun. Ini merupakan tonggak penting terbukanya kolaborasi pasar besar bagi kedua negara,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (12/1/2026).
Masuknya investasi ini juga terjadi di tengah tren peningkatan hubungan dagang bilateral. Sepanjang 2024, nilai perdagangan Indonesia–Tiongkok tercatat mencapai US$135,2 miliar, mengukuhkan posisi Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. Dalam konteks tersebut, TCTP diproyeksikan menjadi platform strategis untuk mempercepat realisasi investasi sekaligus memperdalam kolaborasi industri lintas negara.
Inisiatif TCTP sendiri pertama kali diluncurkan melalui nota kesepahaman pada 2021 dan diperbarui pada Mei 2025. Pembaruan kerja sama tersebut ditandatangani oleh Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok Wang Wentao, serta disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang. Kehadiran para pemimpin negara ini menandai kuatnya dukungan politik tingkat tinggi terhadap arah kemitraan strategis Indonesia–Tiongkok.
Ke depan, pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan untuk memperluas cakupan kolaborasi. Bidang-bidang yang menjadi prioritas antara lain infrastruktur, logistik, industri hilir, manufaktur, energi terbarukan, ekonomi digital, AI, komputasi kuantum, ketahanan pangan, kesehatan, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Untuk memastikan seluruh komitmen investasi berjalan sesuai rencana, pemerintah menegaskan akan terus memperbaiki iklim usaha melalui reformasi regulasi, pembangunan infrastruktur, serta menjaga konsistensi kebijakan. Sebagai langkah konkret, gugus tugas khusus juga telah dibentuk guna mengawal percepatan realisasi proyek-proyek strategis nasional tersebut. ***

Posting Komentar